
Pada akhirnya anaknya melampiaskannya kepada sang adik angkat.
Dosen bimbingan konseling kampus UIN Raden Mas Said itu menjelaskan jika sang adik melakukan kesalahan sedikit saja akan memunculkan emosi yang berlebihan.
"Bila si adik salah sedikit saja, maka memicu emosi si pelaku yang sudah menimbun tumpukan emosi sejak lama," ungkap dia.
BACA JUGA: Ogah Kasus Dila Terulang, Kades Ngabeyan Giatkan Rapat RT
Dari kasus tewasnya Dila di tangan sang kakak sepupu ini, Erna menyoroti tentang pola asuh.
"Dari kasus ini kami bisa melihat peran orang tua terutama ayah sebagai pemimpin keluarga tampak timpang, ayah sejatinya menjadi teladan bagi istri dan anak-anaknya, namun justru menjadi sosok yang ditakuti sekaligus tidak hangat bagi anak-anaknya," papar dia.
BACA JUGA: Ini Sosok 2 Tersangka Penganiayaan Dila, Dididik Keras Sang Ayah
Psikolog anak dan remaja ini juga menjelaskan bagaimana trauma itu bisa sembuh.
Caranya, orang tua mau meminta maaf terlebih dahulu kepada anak dengan luka yang disebabkannya.
BACA JUGA: Ini 2 Tersangka Penyebab Kematian Dila, Ternyata Kakak Sepupu
"Bila dalam kasus ini idealnya sang ayah berkenan meminta maaf pada anak-anak mereka yang pernah diperlakukan dengan begitu menyakitkan. Sayangnya, terkadang masih ada orang tua yang gengsi meminta maaf pada anak-anak mereka. Padahal meminta maaf itu bisa menyembuhkan luka hati sekaligus mendekatkan hati antara anak dan orang tua,”jelas dia.(*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News