GenPI.co Jateng - Para sopir kendaraan berat berharap pihak terkait membuat plang pemberitahuan berisi informasi rekayasa lalu lintas atau petunjuk arah selama pembangunan proyek rel layang Simpang Joglo Solo.
Dengan demikian, para sopir tidak bingung harus melewati jalur mana supaya tidak kecele. Adapun pembangunan rel layang Simpang Joglo Solo dimulai hari ini, Selasa (7/6).
"Jadi harapannya plangnya itu dari jauh sudah ada. Jadi sopir tidak gedandapan karena kendaraan yang kami bawa itu kan besar. Sering terjadi tidak ada pemberitahuan dan sudah terlanjur masuk. Padahal tidak ada tempat etret (memutar) itu yang susah,” kata salah satu sopir kendaraan berat asal Boyolali, Ali Sadikin, kepada GenPI.co, Minggu (5/6).
Di sisi lain, Ali mendukung penuh pembangunan infrastruktur yang tengah dilakukan Kota Solo.
Ali menilai aturan berat atau transfer muatan di setiap wilayah juga berbeda-beda dan ini merupakan hal lumrah.
"Ya wajah dan lumrah dilakukan, tapi misal kayak muatan keramik itu kan pusat perdagangan Kota Solo itu di tengah kota. Sedangkan muatan yang dibawa ratusan ton, kalau transfer muatan ya agak berat, " ujarnya.
Ali mengaku mengetahui pengalihan arus karena pembangunan rel layang ini dari pemberitaan di media massa. Menurut dia, belum ada sosialisasi dari paguyuban atau komunitasnya mengenai adanya rekayasa lalu lintas.
Sementara itu, Kepala komunitas PMSS Solo, Totok Darwanto, menjelaskan dia akan menyosialisasikan kebijakan tersebut kepada sopir lain.
Ada pula pendampingan jika ada beberapa sopir yang tidak tahu tentang aturan tersebut. Selain itu, peraturan wajib lewat tol dan transfer muatan membuat biaya operasional meningkat.
"Masalah itu nanti antara sopir dan perusahaan. Nanti jika sopir koordinasi dengan perusahaan, maka nanti akan ada biaya ongkos itu mau tidak mau harus dilaksanakan lewat tol perusahaan setidaknya harus membantu walau setengah,” papar dia.
Kendala lain dari pengalihan arus ini adalah keberadaan kabel dan massa jembatan di jalur yang dijadikan jalan alternatif kendaraan berat.
“Ketinggian kabel. Itu penting. Ketinggian kabel harus dicek ulang jangan sampai dampaknya ke sopir kasihan. Kami sudah dialihkan putar jauh masih ada kendala seperti itu,” ungkap dia.
Terkait jembatan, segi kekuatannya juga belum diketahui. Dalam hal ini, misalnya jembatan dilewati kendaraan berat bermuatan sembako dan sebagainya.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Solo, Hari Prihatno, menambahkan dalam praktiknya, pembangunan tersebut nantinya akan memunculkan sejumlah aturan yakni rekayasa arus lalu lintas.
Ini meliputi pengaturan kendaraan berat wajib masuk tol dan transfer muatan dari kendaraan berat ke kecil untuk yang memasuki Kota Solo.(*)
Silakan baca konten menarik lainnya dari GenPI.co di Google News